Saya Annisa Oktaviana, seorang mahasiswi berumur 20 tahun.
Saya memiliki banyak impian dalam hidup ini.
Karena itu saya bekerja keras siang dan malam untuk mewujudkan impian saya.
Tulisan ini akan menjadi saksi kesuksesan saya di masa depan.
Saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Ayah saya seorang Pegawai Negeri Sipil dan Ibu saya seorang Ibu Rumah Tangga. Saya anak pertama dari tiga bersaudara.
Kehidupan saya sangatlah indah. Diumur saya yang menginjak 10 tahun, Allah memberikan cobaan yang berat dalam hidup saya. Hal itu lah awal dari kisah yang dapat membuat saya struggle dalam menjalani hidup.
Saya mencari makna dan arti dari kebahagiaan yang sesungguhnya.
Menginjak bangku SMA, saya memutuskan untuk tinggal jauh dari orang tua walaupun masih dalam satu kota yang sama. Bukan tanpa alasan. Tapi hal itulah yang membuat saya berpikir jauh kedepan.
Hidup menawarkan banyak pilihan. Tergantung kita ingin memilih hidup di jalur yang mana. Yang Salah atau yang Benar?
Saya memiliki agama, saya memiliki pedoman, dan saya memiliki Tuhan. Dan saya tau saya harus ada di mana dan berbuat apa.
Memasuki bangku kuliah, saya semakin tau impian saya yang sesungguhnya. Saya cukup hati-hati dalam melangkahkan kaki untuk mencapai tujuan saya, termasuk dalam berteman.
Alhamdulillah, Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang luar biasa. Saya banyak belajar dari orang-orang luar biasa di tempat saya menimba ilmu sekarang, yaitu di STIE EKUITAS Bandung.
Dulu, banyak orang merendahkan saya. Menertawakan saya, bahkan mencaci maki saya.
Hal itu sulit untuk dilupakan dan selalu terbayang dalam benak saya.
Termasuk ketika saya memilih untuk memulai kuliah dari Diploma III, hal itu bukan tanpa alasan. Saya memilih kuliah dari Diploma III, karena biaya untuk masuk perguruan tinggi itu sangatlah mahal. Terlebih, Ayah saya harus membiayai dua anaknya yaitu saya dan adik saya untuk masuk kuliah sekaligus. Berapa banyak biaya yang harus Ia keluarkan? Saya tidak tega waktu itu. Untuk itulah saya prihatin. Tapi disisi lain banyak teman yang merendahkan karena mereka sekolah di tempat yang mahal, bergengsi, dan dapat dibilang 'calon sarjana'.
Mungkin mereka beranggapan bahwa lulusan D3 memiliki angka harapan kerja yang rendah. Dan kurang berkualitas dibanding mereka yang lulusan sarjana.
Saya ingin sekali mematahkan 'stigma berpikir' seperti itu.
Kasian sekali, karena cara berpikir mereka sangatlah sempit.
Saya memiliki impian yang BESAR.
Untuk memulainya, juga diperlukan KEMAUAN yang BESAR.
di tengah krisis keuangan keluarga, dan hidup jauh dari orang tua, saya dituntut untuk berpikir jauh kedepan.
Saya selalu berpikir, "Bagaimana caranya saya bisa bebas finansial di usia saya yang masih muda?"
dan "Bagaimana caranya agar saya dapat membiayai kuliah dengan hasil keringat sendiri?"
Berbekal semangat dan uang sebesar Rp 80.000,- saya dan 7 teman saya yang sama-sama memiliki tekad untuk mandiri, bebas, dan berprestasi memulai usaha kecil-kecilan sekedar untuk dapat menambah uang saku kuliah. Setiap hari kami berkeliling kampus dan menjajakan makanan . Rasa gengsi tak ada dalam jiwa kami.
Tak peduli orang lain berkata apa, tapi niat kami mulia. Kami tidak ingin merepotkan orang tua dengan membebani mereka dengan uang dan uang.
Alhamdulillah, sedikit demi sedikit perjalanan ini mengubah cara pandang saya akan hidup ini.
Bahwa "Kebahagiaan bukan diukur dari seberapa banyak uang yang Kita miliki, tapi seberapa besar kita dapat mensyukuri nikmat yang Tuhan kasih untuk Kita.."
Kisah ini pun mengantarkan saya untuk dapat melihat lebih luas tentang perekonomian bangsa Indonesia yang masih diselimuti dengan perkara pengangguran dan kemiskinan.
Saya ingin menjadi Generasi penerus bangsa yang berguna..
Menciptakan lapangan pekerjaan, dan menjadi penggerak roda perekonomian bangsa...
Semua ini adalah proses dan semua ini berawal dari MIMPI....
Dalam setiap perjalanan yang kita lewati, Allah akan menguji kita. Menguji seberapa besar komitmen dan kemauan kita dalam berikhtiar mewujudkan mimpi-mimpi kita.
Ada kalanya kita akan merasa jatuh sakit sekali. Dan akan ada saatnya kita merasa terbang tinggi.
Banyak orang diluar sana, yang mengerti akan mimpi kita dan rela mendoakan untuk kesuksesan kita.
Tapi ada juga orang diluar sana yang akan senang untuk membisikkan kata-kata virus yang dapat melemahkan bahkan mematikan semangat kita dalam meraih kesuksesan.
Ingatlah, bahwa hanya Allah yang dapat menjawab doa kita..
Allah yang menilai ikhtiar kita..
Allah yang Tau kebutuhan kita...
dan Allah lah yang menggerakkan rezeki kita..
Tak perlu takut selagi engkau masih mengazamkan mimpimu dalam hati, syukuri apa yang kamu dapat hari ini.
Karena itu adalah pelajaran yang mahal bagimu di hari esok.
"Berdoalah kepadaNya, dan Allah akan mengabulkan doamu.."
Tak peduli seberapa sering kamu menangis dan berdoa, tapi tanpa ikhtiar, semua tidak ada artinya.
Tak peduli seberapa banyak kamu bekerja keras, tapi tanpa doa, semua tidak ada artinya.
Saya telah membuktikannya hari ini,
Hari ini adalah pembagian hasil nilai saya selama Semester III, tapi pihak kampus tidak dapat memberikan kompensasi karena saya belum bayar uang kuliah.
Hari ini saya menangis di mushola karena selama ini saya tidak tega untuk meminta bayaran uang kuliah kepada Ayah saya. Saya pandangi kertas nilai saya. Saya berucap : "Terima kasih ya Allah karena Engkau telah mengabulkan apa yang selama ini aku harapkan kepadaMu, Engkau ridhoi IPK ku naik dan memperoleh nilai yang baik disemua mata kuliah..."
Saya kembali bercucuran air mata dan terisak pelan agar tidak ada orang lain yang mendengar.
Saya bingung. Darimana saya dan adik saya harus mendapatkan uang untuk membayar tagihan uang kuliah dalam waktu sehari?
Rasanya berat sekali jika harus menelefon Ayah dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Saya hanya bisa menangis. Menarik nafas panjang dan berusaha menenangkan diri. Uang yang ada di dompet hanya cukup untuk biaya makan saya dan adik saya selama 2 hari di kosan.
Tapi Subhanallah...........
ketika melangkahkan kaki keluar dari mushola, sahabat saya yang baik hati menawarkan meminjamkan uangnya kepada saya. Tanpa saya yang memintanya...
Sungguh, pertolongan Allah itu amatlah dekat......
HIKMAH HARI INI:
Jika hari ini pihak kampus tidak memberikan peringatan untuk segera membayar uang kuliah, mungkin semangat dalam dada untuk dapat membiayai kuliah dengan biaya sendiri telah padam. Karena dengan mudah saya bisa saja memaksa Ayah saya untuk segera mengirimkan uang dan biaya kuliah saya teratasi.
Tapi tempaan ini yang membuat saya semakin kuat dan semangat untuk maju dan berprestasi semakin besar.
Tak peduli kaki ini sakit karena harus jauh berjalan..
Tak peduli seberapa banyak cobaan yang harus saya terima..
Tak peduli seberapa keras teriakan yang harus saya dengar..
Yang saya pedulikan adalah Seberapa besar saya bisa bermanfaat bagi orang lain,
Seberapa besar prestasi yang saya dapat di usia muda,
dan Seberapa banyak kemauan saya untuk memajukan bangsa ini.
Yang terpenting adalah Allah ridho terhadap doa dan mimpi-mimpi kita!!
Dan lihatlah..!! Kau akan menemukan sesuatu yang berharga ketika kau benar-benar mensyukuri apa yang telah kau dapatkan!!
BERANILAH BERMIMPI BESAR
LAKUKAN SESUATU YANG BESAR UNTUK ORANG LAIN YANG MEMBUTUHKANMU
DAN TUHAN LAH YANG AKAN MEMBESARKANMU SUATU SAAT NANTI...
Bandung, 31 Januari 2012
-Annisa Oktaviana-
