Sabtu, 08 Juni 2013

When there's a will, there's a way.

Ah..sudah lama sekali saya tidak menuangkan pikiran dan apa yang saya rasakan di blog ini. Rindu sekali rasanya :’)
Fyi, kali ini saya tidak akan memposting trend hijab fashion yang saya suka, atau memposting sosok seseorang. Lagi dan lagi saya akan menuangkan tentang mimpi dan cita-cita saya (inilah yang paling saya suka :D) Tidak terasa, kurang lebih sudah 2 tahun 8 bulan saya duduk di bangku perguruan tinggi.  Jika dianalogikan bahwa perkuliahan ini seperti lomba balap lari, maka posisi saya sekarang ini sudah hampir sampai di garis ‘finish’. Mungkin beberapa meter lagi. J Saat ini saya sedang menyusun Tugas Akhir saya, yang bagi saya Tugas Akhir ini adalah masterpiece saya selama saya menjalani kuliah program D3. Dan Insya Allah, akhir bulan Juni ini saya akan mempertanggung jawabkan masterpiece itu dalam ujian Sidang Kelulusan.
Dimasa-masa mencapai garis ‘finish’ itu, tentunya saya harus meningkatkan kecepatan saya dalam berlari, dan untuk meningkatkan kecepatan itu tentulah membutuhkan banyak energy. Ya, bagi saya energy itu adalah motivasi yang ada dalam diri saya dan motivasi yang diberikan oleh orang-orang disekitar saya. Ketika energy dalam diri saya ada dalam titik maksimal, maka kecepatan lari saya pun akan maksimal. Sangat berbanding lurus. Dan pada akhirnya nanti, bagi saya, siapapun mereka yang sudah mencapai garis ‘finish’ mereka semua adalah pemenang. Walaupun memang, akan terbentuk siapa yang terbaik diantara yang baik.
Dan menurut saya, keberhasilan saat lulus dari perguruan tinggi adalah bukan tentang seberapa besar IPK yang nanti saya peroleh, tapi seberapa mampu saya mempertanggungjawabkan hasil dari kuliah saya selama kurang lebih 3 tahun ini. Saya harus sudah membuat target dan ancang-ancang dari sekarang, “akan menjadi apa saya setelah lulus kuliah?” dan “kontribusi apa yang akan saya berikan untuk orang tua, bangsa, dan agama saya?
Untuk menjawab pertanyaan yang ada dalam diri sendiri tersebut, tentunya saya harus mengikuti intuisi atau kata hati saya yang tentunya disertai dengan doa dan hasil pemikiran. Dan setelah saya menjalani hidup selama 21 tahun ini, lalu menemukan jati diri di usia 17 tahun, maka selama kurang lebih 4 tahun ini saya sudah bisa menemukan jawaban “akan jadi apa saya di masa depan”. Jawaban tersebut terbentuk dari passion yang ada dalam diri saya. Yang bagi saya, passion itu adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada setiap hamba-hambaNya.
Perjalanan Menemukan “Passion”
“Passion is like ‘x factor’ who gave you more energy to do something usefull”
Saya bersyukur sekali ketika saya sudah menemukan passion yang ada dalam diri saya. Dan saya sangat berusaha dan belajar untuk terus mengembangkan passion ini dengan segala potensi yang ada dalam diri saya.  Seperti yang sudah saya posting sebelumnya, passion saya sendiri ada dalam “entrepreneurship” atau kewirausahaan. Passion ini sedikitnya sudah terasah ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Saya ingat, waktu  saya masih duduk di bangku kelas 4 SD, saya pernah berjualan coklat yang Ibu saya buat. Waktu itu, Ibu saya membuat cokelat hanya untuk cemilan saya dan adik saya di rumah. Tapi karena Ibu saya membuat cokelatnya dalam jumlah yang cukup banyak dengan bentuk yang lucu dan berwarna-warni, maka saya bilang pada Ibu saya kalau saya mau jual cokelat itu kepada teman-teman saya di sekolah. Ibu saya pada waktu itu marah, karena cokelat itu memang bukan untuk dijual, melainkan untuk konsumsi pribadi. Tapi saya bilang, kalau cokelat ini laku terjual maka keuntungannya akan dibagi dua dengan Ibu, dan saya bisa punya uang jajan sendiri. Setelah berhasil meyakinkan Ibu pada waktu itu, akhirnya saya bawa cokelat itu ke sekolah hanya dengan menggunakan Tupperware. Saya ingat sekali, waktu itu saya jual cokelatnya seharga Rp 750,- per buah. Dengan tujuan agar teman-teman membelinya 2 sekaligus, karena kalau beli satu, tidak akan ada uang kembalian dengan pecahan Rp 50,- perak. Hehehe.. Dan benar saja, dalam waktu sekejap cokelat saya laris manis. Waktu itu saya punya untung Rp 15.000,- padahal uang jajan saya cuman Rp 3.000,- sehari. Hehe.. :D Tapi sayangnya, karena waktu itu saya belum tau bagaimana caranya mengolah uang, hasil keuntungan itu malah saya pakai untuk traktir teman-teman saya, (haduhh…) Alhasil, pas pulang ke rumah saya habis dimarahin Ibu saya dan dilarang berjualan lagi. Hahaha…
Itu singkat cerita saya ketika SD. Hal itu pun terulang ketika saya SMA, waktu saya sudah kelas 3. Tapi cara pengelolaan uangnya jelas berbeda. Hehe J Karena saat SMA saya ngekos dengan adik saya, maka uang saku pun pas-pasan. Saya pulang ke rumah seminggu sekali, dan setiap pulang saya dan adik saya membuat cokelat  lalu mengemasnya dengan menggunakan alumunium foil dan diberi merk ”Win’s Chocolatier”. Nama Win’s sendiri diambil dari nama Ibu saya, Winni. Dan ‘Win’ sendiri memiliki arti yang bagus, yaitu ‘pemenang’. Saya menjualnya ke setiap kelas di waktu istirahat. Sampai ada koordinatornya juga di setiap kelas yang membantu saya memasarkan produk cokelat saya ini. Alhamdulillah, bisnis cokelat ini cuman bertahan 2 bulan saja karena waktu itu saya harus focus menghadapi Ujian Nasional, dan dilarang berjualan lagi oleh Ibu saya. Itupun juga karena saya sudah jarang pulang ke rumah setiap minggu. Alhasil saya sudah tidak bisa produksi lagi. Padahal dari bisnis ini sangat membantu sekali buat nambah-nambah uang saku saya dan adik saya selama di kosan J
Itu cerita waktu SMA, setelah memasuki perguruan tinggi, saya masih berbisnis yang sama, tapi dengan strategy yang berbeda. Saya juga adik membangun bisnis dengan Ibu saya, bisnis ini di bidang kue kering. Bisnis ini kami beri nama “Win’s Cookies and Chocolatier”. Alhamdulillah kami memperoleh link untuk memasok pesanan ke sebuah bank pemerintah dan juga perusahaan asing di wilayah Banten. Setiap tahun kami memasok hingga ratusan toples dan dalam bentuk parcel. Hanya saja, bisnis yang kami bangun ini sifatnya masih musiman, untuk saat ini bisnis ini berkembang hanya ketika mendekati Lebaran dan Natal saja. Karena sifatnya musiman, otomatis kami pun hanya mengontrak ‘tenaga kerja’ musiman. Belum bisa sampai mempekerjakan secara tetap, karena ini masih home industry. Semoga saja kedepannya bisa memiliki pabrik dan dapur kerja yang besar sehingga bisa mempekerjakan banyak pegawai. Aamiin J
Selama kuliah kurang lebih 3 tahun ini pun saya dan adik saya membangun bisnis dengan 6 teman saya di kampus. Semuanya dimulai ketika semester 3 perkuliahan, saya dan teman-teman membangun bisnis yang kami beri nama “Srikandi Corporation”. Srikandi sendiri kan adalah sosok wanita tangguh yang tidak pantang menyerah. Kurang lebih seperti itulah maksud  filosofi dari nama yang kami buat. Kami setiap hari berjualan ‘gorengan udon’ seperti sosis, chicken nugget, tempura, bakso ikan, dan lain sebagainya ke kelas-kelas di kampus kami. Alhamdulillah bisnis ini laris manis diserbu mahasiswa-mahasiswi yang kelaparan. Haha ;D... harga yang kami tawarkan pun sangat bersahabat dengan kantong mahasiswa, kami menjualnya Rp 1.500,- per tusuk. Manis, asam asin sudah kami rasakan dari bisnis ini. Dari perputaran uang yang cepat, untung yang manis, sampai ditegur dosen pun pernah. Hehe ..
Dari bermula berbisnis gorengan ini, lama-kelamaan bisnis kami pun berkembang ke bisnis kuliner lainnya, seperti ramen, keripik, sampai bisnis baju.  Karena kami berdelapan, maka untung dari bisnis ini dibagi delapan setiap bulannya. Untungnya cukup lumayan, bisa untuk membiayai makan kami  selama sebulan atau bayar cicilan kosan.
Tapi, jika saya renungi ada ketidakpuasan dalam diri saya.  Selama ini memang, dalam menjalani kesemua bisnis itu saya tidak pernah merasakan adanya beban. Karena kesemua bisnis itu berjalan sesuai pada bidang yang saya minati, yaitu fashion dan kuliner. Tapi kenapa saya masih merasa belum cukup? Ternyata setelah saya merenung dan berfikir, ternyata mindset saya selama dari saya SD sampai kuliah hanya terletak pada , “Saya berbisnis untuk keuntungan saya sendiri”. Saya hanya memiliki tujuan “Setiap keuntungan setidaknya cukup untuk membiayai diri sendiri.”  Cukup. Dan itulah ternyata yang membuat kenapa penghasilan saya dari berbisnis hanya disitu-situ saja. Hanya cukup untuk uang saku saya sendiri.  Akhirnya saya menemukan jawaban itu. Saya berintrospeksi diri, bahwa dalam bermimpi pun kita harus BESAR, supaya langkah yang kita ambil pun BESAR, dan feedback untuk diri kita sendiri pun BESAR. Itu sudah saya alami. J
Antara Kata Hati dan Sistem Klasik
“Visi kamu ke depan atau seperti apa dirimu yang kamu inginkan nanti adalah asset terbesar yang kamu punya.” –  Paul Arden
Nah, sekarang saya sudah mau lulus dari bangku kuliah. Saya ingin berhenti menjadi pedagang. Saya ingin jadi pengusaha yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Saya tidak ingin terlalu berfokus pada ‘profit oriented’ melainkan pada ‘Falah Oriented’. Mimpi saya, ketika saya berdiri di aula, menggunakan toga dan mengucap janji alumni, maka setidaknya saat itu saya sudah memiliki satu orang pegawai. Walaupun hanya satu, tapi ada satu orang yang hidupnya sudah saya tanggung. Saya ingin menjadi Job Creator, bukan Job Seekers. Perihal mimpi dan cita-cita ini, sudah saya utarakan kepada Orang Tua saya, bahwa saat ini saya ingin membangun strategi baru dalam berbisnis.  Saya ingin sekali bisa merekrut pegawai sebelum saya lulus kuliah. Tapi, mindset orang tua saya masih klasik sekali, mereka mengharapkan saya untuk langsung bekerja di kantoran seperti anak-anak fresh gradute lainnya. Mereka bilang, dengan kamu kerja di kantoran maka hidupmu akan terjamin. Saya ingin keluar dari dogma dan system seperti ini. Kaku sekali rasanya. Saya melihat bahwa mulia sekali rasanya ketika kita bisa menghidupi orang lain, bukan dihidupi oleh orang lain. Seperti kalimat “Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah.”
Selama ini pun, saya menjalani kuliah sesuai minat saya. Yaitu ekonomi. Saya pikir, bahwa ilmu selama kuliah ini pun bisa saya aplikasikan dalam berbisnis. Karena ilmu pengetahuan tidak ada yang percuma. Akan semakin baik dan menjadi pahala jika terus diamalkan. Tapi saya juga tidak mempungkiri, bahwa ridho Allah, ridho orang tua juga. Sekarang saya sedang dalam usaha untuk meyakinkan kedua orang tua saya bahwa saya mampu membuktikan mimpi-mimpi itu. Terlepas dari apakah nanti saya bekerja di kantoran atau tidak, yang jelas saya sudah menentukan pilihan. Harapan saya, saya bisa lanjut kuliah ke jenjang S1 dengan hasil usaha sendiri, tidak lagi harus merepotkan Bapak. Apalagi sebentar lagi Bapak akan pensiun. Mimpi saya, dengan bisnis yang saya bangun ini saya bisa berkontribusi untuk dapat mengurangi tingkat pengangguran di negeri ini. Membantu dalam peningkatan taraf perekonomian masyarakat menengah kebawah. Saya sadar, saya memang bukan berasal dari keluarga yang terpandang atau berlebihan  materi. Dan hal itulah yang membuat semangat saya semakin membara untuk dapat bebas secara financial di usia yang masih muda. Bebas dengan caraku sendiri. Bukan bebas yang berasal dari system yang sudah dibentuk oleh orang tua ataupun orang lain. Seperti kisah-kisah pengusaha sukses yang pernah saya baca, contohnya kecilnya saja seperti Steve Jobs, Chairul Tanjung, Bill Gates, dan Suichiro Honda, bahwa mereka semua bukan berasal dari keturunan kaya raya, tapi mereka semua bisa mencapai kesuksesan mereka sendiri berdasarkan atas kegagalan-kegagalan, pertentangan, dan hambatan-hambatan di masa lalu. Tapi yang selalu mereka lakukan adalah tetap berdiri tegak pada apa yang menjadi mimpi dan keyakinannya, tidak pernah menyerah, dan melakukan semuanya berdasarkan pada passion yang ada dalam dirinya. Mereka tidak hanya berkontribusi untuk bangsa dan negaranya, tapi jasa-jasa yang telah mereka berikan juga diakui oleh dunia. Mulia sekali bukan? J
Berikut ini saya mengutip salah satu hadist yang berisi Keutamaan Mencukupkan Keperluan Sesama :
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim lainnya. Janganlah ia menganiaya saudaranya, jangan pula menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa mencukupkan hajat kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi hajat kebutuhannya. Dan barangsiapa membuat kelapangan bagi seorang muslim saat menghadapi kesempitan keduniaan maka Allah akan melapangkannya dari kesempitan di hari kiamat kelak. Dan barangsiapa menutup cela seorang muslim maka Allah akan menutup celanya di hari kiamat kelak.”  (Muttafaq’alaih)
Komitmen
Dulu, sejak saya SMA, karena saya sangat mengagumi integritas seorang Sri Mulyani Indrawati yang menjabat sebagai Menteri Keuangan pada waktu itu, timbul cita-cita dalam diri saya untuk bisa menjadi Menteri Keuangan RI seperti beliau, tapi setelah saya renungi,  sepertinya saya kurang berkomitmen untuk benar-benar bisa menjadi Menteri Keuangan di masa depan. Saya evaluasi lagi mimpi-mimpi saya dan hal-hal apa saja yang telah saya lakukan untuk mendukung pada pencapaian mimpi tesebut, ternyata saya tidak sungguh-sungguh. Saya lebih bersungguh-sungguh dalam membangun sebuah bisnis dan mimpi saya untuk dapat membangun sebuah perusahaan lebih mendominasi pikiran saya dibandingkan dengan mimpi saya untuk dapat menjadi seorang Menteri Keuangan semenjak SMA. Bagi saya, menjadi apapun kita nanti, asalkan kita memiliki integritas dan komitmen yang kuat, tentu saja apa yang kita lakukan akan bermanfaat untuk orang lain. Toh, dengan menjadi Menteri Keuangan ataupun menjadi Pengusaha bisa sama-sama berkontribusi terhadap kemajuan bangsa. Semua kembali lagi pada komitmen yang menjalankan amanah tersebut. Menjadi Polisi, TNI, Guru, Politikus, Akademisi, Pilot, Arsitek, Dokter, atau profesi-profesi lainnya semuanya sangat mulia ketika kita bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Terlebih bisa berkontribusi untuk kebaikan keluarga, bangsa dan agama. Seperti kutipan lirik dari salah satu lagu favorit saya The Script yang berjudul “Hall of Fame” berikut ini :

You could be  the hero
You could be the gold
Breaking all the records that thought never could be broke

Do it for your people
Do it for your pride
Never gonna know if you never even try

Do it for your country
Do it for you name
Cause there’s gonna be a day

When your standing in the hall of fame
And the world’s gonna know your name
Cause you burn with the brightest flame
And the world’s gonna know your name
And you’ll be on the walls of the hall of fame

Be a champion, be a champion, be a champion

Ok, sekian apa yang saya pikirkan dan rasakan saat ini. Sekarang saatnya untuk TAKE ACTION and GO EXTRA MILES J
Semangat untuk kalian yang dengan sengaja atau tidak sengaja membaca blog ini. J
Mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam tulisan saya ini, karena sesungguhnya saya hanya seorang manusia yang banyak khilaf dan dosa. Dan hanya Allah saja lah yang Maha Sempurna dan Maha Mengabulkan segala doa. J
Selamat Berjuang, Selamat meraih Impian !

Salam,
Annisa Oktaviana

Rabu, 21 November 2012

Have a Big Dream? Why Not ?!



Bismillahirrahmanirrahim....

"Selalu kutulis ulang mimpi-mimpiku semampu yang aku bisa selama aku hidup dan berikhtiar di bumi Allah. Agar aku semakin YAKIN, bahwa semua ini memang pasti terjadi dalam hidupku dengan adanya Kehendak dari Yang Maha Besar. YAKIN bahwa Allah Swt Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Mengabulkan..."


#1. Lulus D3 dengan predikat   CUMLAUDE di STIE EKUITAS Bandung pada bulan JULI 2013.

#2. Mendedikasikan ilmu Keuangan & Perbankan pada Bank Sentral atau Bank Umum Syariah yang paling berpengaruh di Indonesia.

#3. Melanjutkan studi S1 di bidang Ekonomi* dengan biaya sendiri. (*Universitas masih menyesuaikan)

#4. Membangun usaha konveksi pakaian muslimah dengan label "GLORIOUS An-Nisa" di usia 22 tahun.

#5. Membeli rumah dan mobil new CR-V di usia 23 tahun.

#6. Menikah dengan pemuda sholeh yang Allah pilihkan di usia 24 tahun.

#7. Bulan madu di Paris dan tour benua Eropa bersama suami di usia 24 tahun.

#8. Umroh bersama kedua orang tua, suami, adik dan mertua.

#9. Membangun yayasan "Bhakti Nusa Foundation" untuk membiayai anak yatim piatu, anak jalanan, dan anak terlantar yang tidak mampu.

#10. Melanjutkan studi S2 di "London School of Economics & Political Science - Department of Finance" di London - UK.

#11. Membeli saham PT. Garuda Indonesia Tbk.

#12. Membangun  Mesjid yang indah.

#13. Membangun sarana pendidikan & kesehatan di daerah terpencil (rural area) di Indonesia.

#14. Menjadi Wanita Muslim Pengusaha yang Berpengaruh di Indonesia.

#15. Menjadi Menteri Keuangan Republik Indonesia


















Selasa, 20 November 2012

20 November 2012




"Duhai Rabbi,  sesungguhnya Engkaulah Pemilik Hati, yang menumbuhkan kerinduan dalam diriku untuk bertemu belahan jiwaku, menciptakan kasih sayang di antara kami agar tenteram hidupku dan merasakan kebahagiaan atas indahnya ciptaan-Mu..

~
Duhai Rabbi,  jika tak pernah cukup amalku membawaku ke surga-Mu, berikanlah aku seorang imam yang akan mendoakanku menjadi bidadari surganya hingga doanya menjadi salah satu alasan bagi-Mu mengisi salah satu surga-Mu dengan aku..
~
Duhai Rabbi, jika tak pernah mampu aku memberatkan timbangan amalku dengan ibadahku sendiri, berikanlah aku seseorang yang membuatku mengabdikan diri kepadanya sebagai bukti cintaku kepada-Mu, agar ridhanya menjadi kunci bagiku membuka surga-Mu dan pengabdian padanya adalah ibadah mulia yang kulakukan atas nama cinta kepada-Mu..
~
Duhai Rabbi, andai itu semua tak layak untukku pertemukanlah aku dengan jiwa baik yang ku rindu itu, yang mengaitkan cintanya hanya kepada-Mu, yang akan kumuliakan dalam pernikahan yang tenteram hingga semakin kuat cintaku kepada-Mu, hingga kami berkumpul dalam naungan kasih sayang-Mu dan maafkan kami atas kesalahan kami yang pernah memburu cinta yang hadir tanpa-Mu, yang datang tidak atas nama-Mu..
~
Dan biarkanlah kami menjadi hamba yang mengisi menara-menara langit-Mu, yang Kau janjikan akan terisi dengan mereka yang saling mencinta karena-Mu.."




Bandung, 20 November 2012


~ Annisa Oktaviana ~

Kamis, 19 April 2012

Bapak, dia Pahlawan HEBAT yang aku kenal


Bismillahirrahmanirrahiim..

Demi Allah, yang Maha Mengetahui isi hati hambaNya..
Aku bangga menjadi anakmu bapak...
Aku bahagia menjadi putrimu yang pertama.
20 tahun yang lalu di hari kelahiranku, aku yakin itulah hari yang engkau tunggu-tunggu dengan penuh harapan dan doa darimu..
Kebahagiaan menunggu kelahiran putrinya lahir kedunia..
Engkau takan pernah membiarkan putri kecilmu menangis hingga ia tumbuh dewasa...


Bapak... kau berjuang keras siang dan malam untuk memenuhi kebutuhanku..
Engkau berusaha keras berjuang agar anak-anakmu bisa merasakan kehidupan yang baik dan layak..
Tanpa pernah engkau memperhatikan kesehatanmu sendiri..
Yang ada dalam benakmu, engkau hanya ingin melihat anak-anakmu tumbuh sehat dan bahagia..
Tanpa pernah engkau mempedulikan dirimu sendiri..

Demi Allah, yang Maha Besar..
Aku disini malu bapak...
Aku malu bukan karena aku adalah putrimu..
Aku malu, karena aku masih saja menyusahkanmu hingga saat ini..
Aku masih saja membuatmu lelah, membuatmu sakit.... hanya untuk membiarkan aku tetap hidup dan merasakan duduk di bangku perguruan tinggi..

Bapak, maafkan putrimu ini.....
Jika hingga detik ini aku masih saja menyusahkanmu..
Melihat tetesan keringat mengalir di pelilipismu... membuat hati ini merasa sakit...
Tak banyak waktu yang dapat kita lalui bersama...
Tapi disaat melihatmu tertawa..... hati ini bahagiaaaaaa sekaliiiiiiiii....
Tawamu indah, dan kau selalu saja bisa membuat canda yang  dapat membuat anak-anakmu tertawa...
Walaupun aku tak bisa selalu memandangmu, mencium tanganmu disetiap pagi, bahkan menghabiskan waktu sesaat untuk sekedar berbagi cerita..... Tapi aku bahagia..........
Aku bahagia, karena engkau adalah Bapakku...

Demi Allah, yang Maha Memiliki Cinta...
Kini sayapku belum sempurna....
Bapak dan mamah, kalian adalah bagian dari sayap kananku....

Tapi sayap kanan saja tidak cukup untuk meyeimbangkanku agar aku dapat terbang tinggi..
Aku harus menemukan sayap kiriku... dan dialah yang akan menjadi imam diriku kelak...
Dengan sayap yang utuh dan sempurna, kelak aku dapat terbang tinggi dalam meraih impian-impianku...

Bapak, dalam setiap sujud shalatku... ada doa untukmu...
Apapun yang engkau lakukan, baik atau buruk.... aku tetaplah anakmu..
Anakmu yang takan henti-hentinya mendoakan kesehatan dan keselamatan untukmu...
Bapak.. aku disini sedang berjuang agar aku tidak lagi menyulitkanmu...
Engkau tak perlu khawatir, karena ada Allah yang melindungi langkahku....
Sebagai seorang bapak, pasti engkau khawatir akan kehidupan putri-putrimu yang masih gadis...
Ketakutan pasti selalu menyelimuti pikiranmu.... dan mungkin selalu membuatmu gelisah...
Tapi bapak, engkau tak perlu takut.... Insya Allah kami sebagai putrimu akan menjaga pandangan kami, hingga waktunya tiba.... engkau yang akan menghalalkan kami bertemu dengan sayap kiri kami..
engkau yang akan menyerahkan diriku pada seorang pemuda yang akan menggantikan peranmu sebagai imam dalam kehidupanku...
Kepada seorang pemuda yang akan menyempurnakan shalatku dan menyempurnakan langkahku dalam membahagiakanmu sebagai orang tuaku..


Bapak, kudoakan agar engkau sehat, panjang umur dan dimudahkan dalam memperoleh apa yang engkau inginkan...
Aku ingin meng'haji'kanmu...
Aku ingin engkau dapat menikahkanku dengan pemuda yang engkau restui...
Aku ingin engkau dapat melihat aku tumbuh sebagai wanita yang hebat untuk keluargaku..
Aku ingin engkau dapat melihat dan menggendong cucu-cucumu kelak..
Ini harapan sederhanaku untukmu bapak.....

Bapak, aku tak pandai merangkai kata..
Bahkan aku tak pandai berbicara dihadapanmu..

Disini, disebuah ruangan yang sepi..
Sambil aku menulis ini, aku sedang mendoakanmu..
Dan sedang berjuang untuk tidak lagi menyusahkanmu dengan materi .
Sudah cukup selama 20 tahun ini aku membuatmu susah..
Kini saatnya aku menaiki satu persatu anak tangga cita-citaku..
Doakanlah putrimu ini agar aku mampu mambahagiakanmu di dunia maupun di akhirat..
Terima kasih bapak atas segala perjuanganmu dan segala kebaikanmu padaku..
Sungguh, hanya Allah-lah sebaik-baiknya pemberi balasan atas setiap kebaikanmu untukku..
Terima kasih karena engkau telah rela berkorban demi melihatku bahagia..
Sekali lagi terima kasih bapak.......

Disetiap darahku... mengalir darahmu....

Semoga Allah selalu melindungimu disetiap hembusan nafas dan detak jantungmu.... (amin)

Sebuah hadist  mengenai perjuangan seorang Bapak :



"Barangsiapa memelihara dua anak perempuan, memberi nafkah kepada keduanya dan membaguskan pemeliharaan keduanya sampai keduanya dewasa, maka akan datang di hari kiamat aku dan dia." rasul mengepalkan jari-jari beliau
(HR Muslim, Tirmidzi, Ibnu Hibban).


Lalu, 

Rasulullah bertutur, "Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan lalu dia mendidik mereka, mengasihi mereka, menanggung kebutuhan mereka dan menikahkan mereka maka wajiblah surga untuknya"

Ditanyakan, "Wahai Rasulullah! Bagaimana jika dua anak perempuan?" Beliau menjawab, "Meskipun dua anak perempuan."

Subhanallah... Allah menjanjikan surga bagi bapak-bapak yang hebat di dunia ini, yang tak pernah mengenal lelah dalam mendidik putri-putrinya....



Bapak, aku menyayangimu di setiap waktuku..
doakanlah aku agar aku mampu berjuang disini, walaupun aku harus jauh darimu...


Untuk PAHLAWAN HEBAT dalam hidupku : ♥ BAPAK

Dari Putrimu :



-ANNISA OKTAVIANA-

Kamis, 05 April 2012

Bismillah, akan ku ikhtiarkan ini semua..

Di sini, berjuta orang merindukan cahaya masa depan yang menyala terang, terlihat dari kejauhan titik cahayanya seperti kerlip bintang di ujung lautan. Mereka akan bergegas berangkat dengan biduk-biduk kecil yang mengikatkan talinya pada kekuatan laju perahu besar bernama waktu, takdir, nyanyian dan impian berjuta manusia. Perahu besar yang berlabuh setiap setahun sekali, menepi selama sebulan, dan kelak menarik apapun yang menambatkan temali pada tiangnya yang kokoh. 

Sementara waktu telah berjalan begitu cepat, menghitung sisa hari seperti ketukan detik jam yang melekat pada bom waktu, dan itu artinya setiap orang di pulau harus bergegas mempersiapkan bekal sebelum akhirnya kapal besar itu berangkat meninggalkan pulau, sebelum kelak usia rapuh dalam kesendirian yang maha sepi. Mereka akan berbondong-bondong menuju negeri cahaya, membangun rumah, menikah dan melahirkan anak-anak yang akan melanjutkan sejarah dan silsilah.

Cahaya masa depan adalah kota harapan, tempat kebahagiaan dirumuskan dengan sempurna, kenikmatan dunia yang memanjakan raga dan jiwa. Orang-orang muda di pulau ini sudah bekerja keras mencari dan mempersiapkan cinta dan harta. Mereka diburu usia dan impiannya sendiri, berlomba dengan waktu, berdesakan meraih kesempatan untuk berangkat. 


Tapi, aku tetaplah aku. Aku memiliki angan dan impian untuk memajukan bangsaku.
Walau aku seorang wanita, bukan penghalang bagiku untuk dapat maju dan merasakan kebebasan dari filosofiku.
Aku ingin terbang bebas bak burung dara yang terbang di atas awan.
Bebas dengan caraku sendiri.

Aku adalah satu dari berjuta-juta wanita yang mengidolakan keshalihan Aisyah ra dan bunda Siti Khadijah.
Aku ingin seperti Aisyah ra, yang mampu menjaga auratnya, yang baik dalam ucapannya,
dan menjadi yang dicinta untuk muhrimnya.
Aku ingin seperti bunda Khadijah yang dermawan dengan kekayaannya. Yang mampu menggetarkan hati seorang pemuda dengan cinta yang penuh makna bagi peradaban dunia.

Tapi aku tetaplah aku yang tak sesempurna mereka.
Aku bahagia dengan apa yang menjadi takdirku.
Ku tulis mimpi-mimpiku. Ku kobarkan semangat dalam jiwaku.
Untuk terus maju dan berjuang demi bangsaku!!


Inilah potret dari bangsaku saat ini, yang membuat hati siapa saja yang melihatnya tergerak untuk berguna bagi bangsanya:


Ribuan anak jalanan dan anak terlantar dibiarkan hidup bebas untuk merasakan kerasnya kehidupan. Bukan begitu seharusnya. Dan bukan untuk seperti itu mereka dilahirkan......

Aku memiliki cita-cita, untuk dapat membangun sebuah yayasan yang dapat membantu mencerdaskan anak bangsa, untuk dapat membuat mereka merasakan bangku sekolah dan memiliki impian tinggi. Yaitu kebebasan!!!


Mungkin ini sedikit gila, dan terdengar tidak mungkin. Tapi aku memimpikannya. Aku bermimpi dan memiliki cita-cita untuk memiliki perusahaan penerbangan yang terbesar di negaraku. Ya! itulah tujuan bermimpi.
Membuat kita bergerak untuk mewujudkan yang tidak mungkin menjadi mungkin.



 Ini mimpiku yang harus terwujud. Membangun mesjid yang indah yang dapat menampung beratus-ratus umat di dalamnya. Insya Allah... 'kun fayakun'... Aku percaya, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. 
MAN JADDA WAJADA!


"Bagiku bermimpi itu indah. Karena Allah yang Maha menggenggam impian kita. Dengan mengazamkan segala harapan dan impian di masa depan. Dengan kesungguhan ikhtiar didalamnya, kita hanya tinggal menunggu....Semua impian itu akan Allah dekatkan satu-persatu melalui mozaik-mozaik khidupan yang indah"


-Annisa Oktaviana-





Senin, 19 Maret 2012

Untukmu : Sahabatku

2 tahun sudah Allah mempertemukan kita, mendekatkan kita dalam tali silaturahmi yang indah.
Kupercaya, ini bukanlah suatu kebetulan, tapi inilah yang kusebut dengan takdir Allah.
Selama lebih dari beratus-ratus hari kita lalui bersama. Kita lalui dalam tangis, tawa, dan canda.
Sahabat, aku bersyukur mengenal kalian. Kalian wanita-wanita hebat sumber inspirasiku.
Ingatkah kalian awal dari sebuah persahabatan ini?
Semua kita awali dengan niat dan rasa ikhlas menerima.
Menerima kekurangan & kelebihan satu sama lain..
Ingatkah kalian saat dimana kita menangis dan tertawa bersama?
Saat itulah saat dimana semua terlihat  indah..... sangatlah indah.........

Ketika matahari blm menampakkan sinarnya, kita sama-sama bermunajat doa padaNya.
Setiap pagi kita sama-sama melangkahkan kaki kedalam gerbang tempat dimana kita menimba ilmu, dengan harapan yang sama, pulang membawa ilmu dan uang.
Itulah salah satu yang harus kita syukuri sahabat...
Bisa dikatakan kita berbeda dengan yang lain....
Ketika mereka banyak yang memilih untuk hidup di zona yang ‘nyaman’, kita berbeda....
Setiap hari kita harus melawan rasa nafsu dan malas berkali-kali lipat dari kehidupan kaum muda yang normal.
Tanpa rasa gengsi dan malu, kita jajakan makanan keliling kampus....
Rasa letih dalam diri ini sungguh tak terasa ketika melihat senyuman dari kalian...
Ketika matahari sudah terbenam, barulah kita sama-sama pulang dengan menghitung rupiah demi rupiah yang kita dapatkan hari itu. Sungguh berarti sekali perjuangan kita untuk dapat merasakan bebas finansial dan bebas dari tanggungan orang tua kita.
Perjalanan inilah yang menunjukkan bahwa kita memiliki IMPIAN yang sama...

Kisah kita sebagai wirausaha muda dimulai dari sini..

 Belajar dan berdagang, itulah keseharian kita...


Kita bersama-sama menuliskan tinta emas dalam kertas putih keridhoan Allah..
Kita memiliki cita-cita yang sama.. karena itulah Allah mempertemukan & mendekatkan kita satu sama lain..
Kita bagaikan magnet yang kekuatannya tak mudah untuk dilepaskan..
Kita dipersatukan karena hukum alam.. 
Semua berproses, dan proses itu indah sekali sahabat.....

Ingatkah kalian disaat-saat seperti ini?
Saat dimana untuk pertama kalinya kita hadir di tengah-tengah masyarakat hanya dengan bermodalkan SEMANGAT dan barang dagangan seadanya..
Tapi apakah disaat itu kita malu?
TIDAK!!
Kita disaat itu bersama-sama membuktikan bahwa dengan kerjasama kita bisa membuktikan apa yang dirasa tidak mungkin bagi orang lain.
Ingatkah kalian dengan situasi diatas?
Saat dimana stand dagangan kita ditertawakan orang. Dianggap 'aneh' dan sedikit orang yang mau melihat dan membeli apa yang kita tawarkan.
Apakah disaat itu kita juga menyerah?
TIDAK!!
Kita tetap bertahan untuk terus memperbaiki apa yang telah kita lalui dan apa yang telah kita dapatkan hari itu.

Kita tidak menyerah dalam keputusasaan. Walaupun kita berhadapan dengan preman, ditegur oleh pesaing, dan terpaksa berjualan tanpa tenda sebagai peneduh kita di hari itu. Teriknya matahari yang menyengat di hari itu, bersamaan dengan terbakarnya SEMANGAT dalam dada untuk terus berjuang dan berjuang...
Untuk membuktikan bahwa kita bukanlah wanita yang manja, lemah, dan cengeng..



Dan ingatkah kalian sahabat?
Disaat Allah SWT mengabulkan satu persatu impian kita yang telah kita tulis di kertas putih keridhoanNya?
Saat dimana kita pernah bermimpi bahwa kita PASTI bisa menaklukkan JAKARTA..

DAN SEMUA ITU MEMANG TERJADI!! 
DAN MENJADI BAGIAN DARI TAKDIR KITA...




Disana, aku semakin yakin bahwa Allah SWT yang Maha Menggenggam mimpi-mimpi hamba-Nya.
Allah membukakan banyak pintu rezeki kita disana.
Mendekatkan kita dengan manusia-manusia luar biasa.


 
Ribuan orang melihat dan mendatangi stand kita.
Kita kantongi omzet penjualan jutaan rupiah dalam kurun waktu 2 hari saja.
Apakah semua itu terjadi secara kebetulan?
TIDAK!!
Semua terjadi karena sudah ada yang mengaturnya, yakni Allah SWT......


Allah yang meridhoi kita untuk berada dalam sebuah forum penting, dan Allah yang mempertemukan kita dengan orang-orang yang telah Allah kehendaki sebelumnya.
Tanpa pernah kita tahu & kita sadari..
Allah telah memiliki rencana yang indah dibalik persahabatan kita...
 Mari Kita belajar bersama, untuk dapat saling mengingatkan satu sama lain....


 Kita satukan VISI dan MISI dengan kekuatan kerjasama & doa


k

Kita akan selalu BERSAMA dalam tangis dan tawa................



Kita buktikan pada bangsa ini, bahwa kita adalah bagian dari GENERASI PENERUS BANGSA yang dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik..

Berbekal SEMANGAT, KEYAKINAN, KERJA KERAS & DOA
KITA taklukan apa yang kita takuti saat ini.
MARI KITA LIHAT KE DEPAN.
Dan berusaha memperbaiki semuanya untuk menjadi lebih baik.
"KERJA KERAS, KERJA CERDAS & KERJA IKHLAS"


Mari kita ciptakan sejarah dengan prestasi!!
Kelak kita yang akan menjadi bagian di dalam buku ini:



"Aku menyayangimu sahabatku...... 
Aku selalu memohon pada Allah agar kita dapat selalu dipersatukan hingga maut yang memisahkan.
 Ini hanyalah sebagian kecil dari jutaan kisah yang telah kita lalui bersama. 
Masih banyak kisah suka & duka yang akan kita hadapi kedepan.
 Ingatlah pada tujuan kita. Bahwa hidup ini adalah untuk kebermanfaatan. 
Untuk itu, ingatkanlah aku jika aku lalai  duhai sahabatku.... 
Maafkanlah aku jika aku salah.
 Terima kasih karena kalian telah menjadi salah satu bagian yang berharga dalam hidupku.
Terima kasih karena kalian mau menerima segala kekuranganku...
Terima kasih karena kalian adalah pendengar yang baik untukku..
Dan terima kasih karena telah menyayangiku....."



Dari Sahabatmu,



-ANNISA OKTAVIANA-