Ah..sudah lama sekali saya tidak menuangkan pikiran dan apa yang saya rasakan di blog ini. Rindu sekali rasanya :’)
Fyi, kali ini saya tidak akan memposting trend hijab fashion yang saya suka, atau memposting sosok seseorang. Lagi dan lagi saya akan menuangkan tentang mimpi dan cita-cita saya (inilah yang paling saya suka :D) Tidak terasa, kurang lebih sudah 2 tahun 8 bulan saya duduk di bangku perguruan tinggi. Jika dianalogikan bahwa perkuliahan ini seperti lomba balap lari, maka posisi saya sekarang ini sudah hampir sampai di garis ‘finish’. Mungkin beberapa meter lagi. J Saat ini saya sedang menyusun Tugas Akhir saya, yang bagi saya Tugas Akhir ini adalah masterpiece saya selama saya menjalani kuliah program D3. Dan Insya Allah, akhir bulan Juni ini saya akan mempertanggung jawabkan masterpiece itu dalam ujian Sidang Kelulusan.
Dimasa-masa mencapai garis ‘finish’ itu, tentunya saya harus meningkatkan kecepatan saya dalam berlari, dan untuk meningkatkan kecepatan itu tentulah membutuhkan banyak energy. Ya, bagi saya energy itu adalah motivasi yang ada dalam diri saya dan motivasi yang diberikan oleh orang-orang disekitar saya. Ketika energy dalam diri saya ada dalam titik maksimal, maka kecepatan lari saya pun akan maksimal. Sangat berbanding lurus. Dan pada akhirnya nanti, bagi saya, siapapun mereka yang sudah mencapai garis ‘finish’ mereka semua adalah pemenang. Walaupun memang, akan terbentuk siapa yang terbaik diantara yang baik.
Dan menurut saya, keberhasilan saat lulus dari perguruan tinggi adalah bukan tentang seberapa besar IPK yang nanti saya peroleh, tapi seberapa mampu saya mempertanggungjawabkan hasil dari kuliah saya selama kurang lebih 3 tahun ini. Saya harus sudah membuat target dan ancang-ancang dari sekarang, “akan menjadi apa saya setelah lulus kuliah?” dan “kontribusi apa yang akan saya berikan untuk orang tua, bangsa, dan agama saya?
Untuk menjawab pertanyaan yang ada dalam diri sendiri tersebut, tentunya saya harus mengikuti intuisi atau kata hati saya yang tentunya disertai dengan doa dan hasil pemikiran. Dan setelah saya menjalani hidup selama 21 tahun ini, lalu menemukan jati diri di usia 17 tahun, maka selama kurang lebih 4 tahun ini saya sudah bisa menemukan jawaban “akan jadi apa saya di masa depan”. Jawaban tersebut terbentuk dari passion yang ada dalam diri saya. Yang bagi saya, passion itu adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada setiap hamba-hambaNya.
Perjalanan Menemukan “Passion”
“Passion is like ‘x factor’ who gave you more energy to do something usefull”
Saya bersyukur sekali ketika saya sudah menemukan passion yang ada dalam diri saya. Dan saya sangat berusaha dan belajar untuk terus mengembangkan passion ini dengan segala potensi yang ada dalam diri saya. Seperti yang sudah saya posting sebelumnya, passion saya sendiri ada dalam “entrepreneurship” atau kewirausahaan. Passion ini sedikitnya sudah terasah ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Saya ingat, waktu saya masih duduk di bangku kelas 4 SD, saya pernah berjualan coklat yang Ibu saya buat. Waktu itu, Ibu saya membuat cokelat hanya untuk cemilan saya dan adik saya di rumah. Tapi karena Ibu saya membuat cokelatnya dalam jumlah yang cukup banyak dengan bentuk yang lucu dan berwarna-warni, maka saya bilang pada Ibu saya kalau saya mau jual cokelat itu kepada teman-teman saya di sekolah. Ibu saya pada waktu itu marah, karena cokelat itu memang bukan untuk dijual, melainkan untuk konsumsi pribadi. Tapi saya bilang, kalau cokelat ini laku terjual maka keuntungannya akan dibagi dua dengan Ibu, dan saya bisa punya uang jajan sendiri. Setelah berhasil meyakinkan Ibu pada waktu itu, akhirnya saya bawa cokelat itu ke sekolah hanya dengan menggunakan Tupperware. Saya ingat sekali, waktu itu saya jual cokelatnya seharga Rp 750,- per buah. Dengan tujuan agar teman-teman membelinya 2 sekaligus, karena kalau beli satu, tidak akan ada uang kembalian dengan pecahan Rp 50,- perak. Hehehe.. Dan benar saja, dalam waktu sekejap cokelat saya laris manis. Waktu itu saya punya untung Rp 15.000,- padahal uang jajan saya cuman Rp 3.000,- sehari. Hehe.. :D Tapi sayangnya, karena waktu itu saya belum tau bagaimana caranya mengolah uang, hasil keuntungan itu malah saya pakai untuk traktir teman-teman saya, (haduhh…) Alhasil, pas pulang ke rumah saya habis dimarahin Ibu saya dan dilarang berjualan lagi. Hahaha…
Itu singkat cerita saya ketika SD. Hal itu pun terulang ketika saya SMA, waktu saya sudah kelas 3. Tapi cara pengelolaan uangnya jelas berbeda. Hehe J Karena saat SMA saya ngekos dengan adik saya, maka uang saku pun pas-pasan. Saya pulang ke rumah seminggu sekali, dan setiap pulang saya dan adik saya membuat cokelat lalu mengemasnya dengan menggunakan alumunium foil dan diberi merk ”Win’s Chocolatier”. Nama Win’s sendiri diambil dari nama Ibu saya, Winni. Dan ‘Win’ sendiri memiliki arti yang bagus, yaitu ‘pemenang’. Saya menjualnya ke setiap kelas di waktu istirahat. Sampai ada koordinatornya juga di setiap kelas yang membantu saya memasarkan produk cokelat saya ini. Alhamdulillah, bisnis cokelat ini cuman bertahan 2 bulan saja karena waktu itu saya harus focus menghadapi Ujian Nasional, dan dilarang berjualan lagi oleh Ibu saya. Itupun juga karena saya sudah jarang pulang ke rumah setiap minggu. Alhasil saya sudah tidak bisa produksi lagi. Padahal dari bisnis ini sangat membantu sekali buat nambah-nambah uang saku saya dan adik saya selama di kosan J
Itu cerita waktu SMA, setelah memasuki perguruan tinggi, saya masih berbisnis yang sama, tapi dengan strategy yang berbeda. Saya juga adik membangun bisnis dengan Ibu saya, bisnis ini di bidang kue kering. Bisnis ini kami beri nama “Win’s Cookies and Chocolatier”. Alhamdulillah kami memperoleh link untuk memasok pesanan ke sebuah bank pemerintah dan juga perusahaan asing di wilayah Banten. Setiap tahun kami memasok hingga ratusan toples dan dalam bentuk parcel. Hanya saja, bisnis yang kami bangun ini sifatnya masih musiman, untuk saat ini bisnis ini berkembang hanya ketika mendekati Lebaran dan Natal saja. Karena sifatnya musiman, otomatis kami pun hanya mengontrak ‘tenaga kerja’ musiman. Belum bisa sampai mempekerjakan secara tetap, karena ini masih home industry. Semoga saja kedepannya bisa memiliki pabrik dan dapur kerja yang besar sehingga bisa mempekerjakan banyak pegawai. Aamiin J
Selama kuliah kurang lebih 3 tahun ini pun saya dan adik saya membangun bisnis dengan 6 teman saya di kampus. Semuanya dimulai ketika semester 3 perkuliahan, saya dan teman-teman membangun bisnis yang kami beri nama “Srikandi Corporation”. Srikandi sendiri kan adalah sosok wanita tangguh yang tidak pantang menyerah. Kurang lebih seperti itulah maksud filosofi dari nama yang kami buat. Kami setiap hari berjualan ‘gorengan udon’ seperti sosis, chicken nugget, tempura, bakso ikan, dan lain sebagainya ke kelas-kelas di kampus kami. Alhamdulillah bisnis ini laris manis diserbu mahasiswa-mahasiswi yang kelaparan. Haha ;D... harga yang kami tawarkan pun sangat bersahabat dengan kantong mahasiswa, kami menjualnya Rp 1.500,- per tusuk. Manis, asam asin sudah kami rasakan dari bisnis ini. Dari perputaran uang yang cepat, untung yang manis, sampai ditegur dosen pun pernah. Hehe ..
Dari bermula berbisnis gorengan ini, lama-kelamaan bisnis kami pun berkembang ke bisnis kuliner lainnya, seperti ramen, keripik, sampai bisnis baju. Karena kami berdelapan, maka untung dari bisnis ini dibagi delapan setiap bulannya. Untungnya cukup lumayan, bisa untuk membiayai makan kami selama sebulan atau bayar cicilan kosan.
Tapi, jika saya renungi ada ketidakpuasan dalam diri saya. Selama ini memang, dalam menjalani kesemua bisnis itu saya tidak pernah merasakan adanya beban. Karena kesemua bisnis itu berjalan sesuai pada bidang yang saya minati, yaitu fashion dan kuliner. Tapi kenapa saya masih merasa belum cukup? Ternyata setelah saya merenung dan berfikir, ternyata mindset saya selama dari saya SD sampai kuliah hanya terletak pada , “Saya berbisnis untuk keuntungan saya sendiri”. Saya hanya memiliki tujuan “Setiap keuntungan setidaknya cukup untuk membiayai diri sendiri.” Cukup. Dan itulah ternyata yang membuat kenapa penghasilan saya dari berbisnis hanya disitu-situ saja. Hanya cukup untuk uang saku saya sendiri. Akhirnya saya menemukan jawaban itu. Saya berintrospeksi diri, bahwa dalam bermimpi pun kita harus BESAR, supaya langkah yang kita ambil pun BESAR, dan feedback untuk diri kita sendiri pun BESAR. Itu sudah saya alami. J
Antara Kata Hati dan Sistem Klasik
“Visi kamu ke depan atau seperti apa dirimu yang kamu inginkan nanti adalah asset terbesar yang kamu punya.” – Paul Arden
Nah, sekarang saya sudah mau lulus dari bangku kuliah. Saya ingin berhenti menjadi pedagang. Saya ingin jadi pengusaha yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Saya tidak ingin terlalu berfokus pada ‘profit oriented’ melainkan pada ‘Falah Oriented’. Mimpi saya, ketika saya berdiri di aula, menggunakan toga dan mengucap janji alumni, maka setidaknya saat itu saya sudah memiliki satu orang pegawai. Walaupun hanya satu, tapi ada satu orang yang hidupnya sudah saya tanggung. Saya ingin menjadi Job Creator, bukan Job Seekers. Perihal mimpi dan cita-cita ini, sudah saya utarakan kepada Orang Tua saya, bahwa saat ini saya ingin membangun strategi baru dalam berbisnis. Saya ingin sekali bisa merekrut pegawai sebelum saya lulus kuliah. Tapi, mindset orang tua saya masih klasik sekali, mereka mengharapkan saya untuk langsung bekerja di kantoran seperti anak-anak fresh gradute lainnya. Mereka bilang, dengan kamu kerja di kantoran maka hidupmu akan terjamin. Saya ingin keluar dari dogma dan system seperti ini. Kaku sekali rasanya. Saya melihat bahwa mulia sekali rasanya ketika kita bisa menghidupi orang lain, bukan dihidupi oleh orang lain. Seperti kalimat “Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah.”
Selama ini pun, saya menjalani kuliah sesuai minat saya. Yaitu ekonomi. Saya pikir, bahwa ilmu selama kuliah ini pun bisa saya aplikasikan dalam berbisnis. Karena ilmu pengetahuan tidak ada yang percuma. Akan semakin baik dan menjadi pahala jika terus diamalkan. Tapi saya juga tidak mempungkiri, bahwa ridho Allah, ridho orang tua juga. Sekarang saya sedang dalam usaha untuk meyakinkan kedua orang tua saya bahwa saya mampu membuktikan mimpi-mimpi itu. Terlepas dari apakah nanti saya bekerja di kantoran atau tidak, yang jelas saya sudah menentukan pilihan. Harapan saya, saya bisa lanjut kuliah ke jenjang S1 dengan hasil usaha sendiri, tidak lagi harus merepotkan Bapak. Apalagi sebentar lagi Bapak akan pensiun. Mimpi saya, dengan bisnis yang saya bangun ini saya bisa berkontribusi untuk dapat mengurangi tingkat pengangguran di negeri ini. Membantu dalam peningkatan taraf perekonomian masyarakat menengah kebawah. Saya sadar, saya memang bukan berasal dari keluarga yang terpandang atau berlebihan materi. Dan hal itulah yang membuat semangat saya semakin membara untuk dapat bebas secara financial di usia yang masih muda. Bebas dengan caraku sendiri. Bukan bebas yang berasal dari system yang sudah dibentuk oleh orang tua ataupun orang lain. Seperti kisah-kisah pengusaha sukses yang pernah saya baca, contohnya kecilnya saja seperti Steve Jobs, Chairul Tanjung, Bill Gates, dan Suichiro Honda, bahwa mereka semua bukan berasal dari keturunan kaya raya, tapi mereka semua bisa mencapai kesuksesan mereka sendiri berdasarkan atas kegagalan-kegagalan, pertentangan, dan hambatan-hambatan di masa lalu. Tapi yang selalu mereka lakukan adalah tetap berdiri tegak pada apa yang menjadi mimpi dan keyakinannya, tidak pernah menyerah, dan melakukan semuanya berdasarkan pada passion yang ada dalam dirinya. Mereka tidak hanya berkontribusi untuk bangsa dan negaranya, tapi jasa-jasa yang telah mereka berikan juga diakui oleh dunia. Mulia sekali bukan? J
Berikut ini saya mengutip salah satu hadist yang berisi Keutamaan Mencukupkan Keperluan Sesama :
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim lainnya. Janganlah ia menganiaya saudaranya, jangan pula menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa mencukupkan hajat kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi hajat kebutuhannya. Dan barangsiapa membuat kelapangan bagi seorang muslim saat menghadapi kesempitan keduniaan maka Allah akan melapangkannya dari kesempitan di hari kiamat kelak. Dan barangsiapa menutup cela seorang muslim maka Allah akan menutup celanya di hari kiamat kelak.” (Muttafaq’alaih)
Komitmen
Dulu, sejak saya SMA, karena saya sangat mengagumi integritas seorang Sri Mulyani Indrawati yang menjabat sebagai Menteri Keuangan pada waktu itu, timbul cita-cita dalam diri saya untuk bisa menjadi Menteri Keuangan RI seperti beliau, tapi setelah saya renungi, sepertinya saya kurang berkomitmen untuk benar-benar bisa menjadi Menteri Keuangan di masa depan. Saya evaluasi lagi mimpi-mimpi saya dan hal-hal apa saja yang telah saya lakukan untuk mendukung pada pencapaian mimpi tesebut, ternyata saya tidak sungguh-sungguh. Saya lebih bersungguh-sungguh dalam membangun sebuah bisnis dan mimpi saya untuk dapat membangun sebuah perusahaan lebih mendominasi pikiran saya dibandingkan dengan mimpi saya untuk dapat menjadi seorang Menteri Keuangan semenjak SMA. Bagi saya, menjadi apapun kita nanti, asalkan kita memiliki integritas dan komitmen yang kuat, tentu saja apa yang kita lakukan akan bermanfaat untuk orang lain. Toh, dengan menjadi Menteri Keuangan ataupun menjadi Pengusaha bisa sama-sama berkontribusi terhadap kemajuan bangsa. Semua kembali lagi pada komitmen yang menjalankan amanah tersebut. Menjadi Polisi, TNI, Guru, Politikus, Akademisi, Pilot, Arsitek, Dokter, atau profesi-profesi lainnya semuanya sangat mulia ketika kita bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Terlebih bisa berkontribusi untuk kebaikan keluarga, bangsa dan agama. Seperti kutipan lirik dari salah satu lagu favorit saya The Script yang berjudul “Hall of Fame” berikut ini :
You could be the hero
You could be the gold
Breaking all the records that thought never could be broke
Do it for your people
Do it for your pride
Never gonna know if you never even try
Do it for your country
Do it for you name
Cause there’s gonna be a day
When your standing in the hall of fame
And the world’s gonna know your name
Cause you burn with the brightest flame
And the world’s gonna know your name
And you’ll be on the walls of the hall of fame
Be a champion, be a champion, be a champion
Ok, sekian apa yang saya pikirkan dan rasakan saat ini. Sekarang saatnya untuk TAKE ACTION and GO EXTRA MILES J
Semangat untuk kalian yang dengan sengaja atau tidak sengaja membaca blog ini. J
Mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam tulisan saya ini, karena sesungguhnya saya hanya seorang manusia yang banyak khilaf dan dosa. Dan hanya Allah saja lah yang Maha Sempurna dan Maha Mengabulkan segala doa. J
Selamat Berjuang, Selamat meraih Impian !
Salam,
Annisa Oktaviana






































