Di sini, berjuta orang merindukan cahaya masa depan yang menyala terang, terlihat dari kejauhan titik cahayanya seperti kerlip bintang di ujung lautan. Mereka akan bergegas berangkat dengan biduk-biduk kecil yang mengikatkan talinya pada kekuatan laju perahu besar bernama waktu, takdir, nyanyian dan impian berjuta manusia. Perahu besar yang berlabuh setiap setahun sekali, menepi selama sebulan, dan kelak menarik apapun yang menambatkan temali pada tiangnya yang kokoh.
Sementara waktu telah berjalan begitu cepat, menghitung sisa hari seperti ketukan detik jam yang melekat pada bom waktu, dan itu artinya setiap orang di pulau harus bergegas mempersiapkan bekal sebelum akhirnya kapal besar itu berangkat meninggalkan pulau, sebelum kelak usia rapuh dalam kesendirian yang maha sepi. Mereka akan berbondong-bondong menuju negeri cahaya, membangun rumah, menikah dan melahirkan anak-anak yang akan melanjutkan sejarah dan silsilah.
Cahaya masa depan adalah kota harapan, tempat kebahagiaan dirumuskan dengan sempurna, kenikmatan dunia yang memanjakan raga dan jiwa. Orang-orang muda di pulau ini sudah bekerja keras mencari dan mempersiapkan cinta dan harta. Mereka diburu usia dan impiannya sendiri, berlomba dengan waktu, berdesakan meraih kesempatan untuk berangkat.
Tapi, aku tetaplah aku. Aku memiliki angan dan impian untuk memajukan bangsaku.
Walau aku seorang wanita, bukan penghalang bagiku untuk dapat maju dan merasakan kebebasan dari filosofiku.
Aku ingin terbang bebas bak burung dara yang terbang di atas awan.
Bebas dengan caraku sendiri.
Aku adalah satu dari berjuta-juta wanita yang mengidolakan keshalihan Aisyah ra dan bunda Siti Khadijah.
Aku ingin seperti Aisyah ra, yang mampu menjaga auratnya, yang baik dalam ucapannya,
dan menjadi yang dicinta untuk muhrimnya.
Aku ingin seperti bunda Khadijah yang dermawan dengan kekayaannya. Yang mampu menggetarkan hati seorang pemuda dengan cinta yang penuh makna bagi peradaban dunia.
Tapi aku tetaplah aku yang tak sesempurna mereka.
Aku bahagia dengan apa yang menjadi takdirku.
Ku tulis mimpi-mimpiku. Ku kobarkan semangat dalam jiwaku.
Untuk terus maju dan berjuang demi bangsaku!!
Inilah potret dari bangsaku saat ini, yang membuat hati siapa saja yang melihatnya tergerak untuk berguna bagi bangsanya:
Ribuan anak jalanan dan anak terlantar dibiarkan hidup bebas untuk merasakan kerasnya kehidupan. Bukan begitu seharusnya. Dan bukan untuk seperti itu mereka dilahirkan......
Aku memiliki cita-cita, untuk dapat membangun sebuah yayasan yang dapat membantu mencerdaskan anak bangsa, untuk dapat membuat mereka merasakan bangku sekolah dan memiliki impian tinggi. Yaitu kebebasan!!!
Mungkin ini sedikit gila, dan terdengar tidak mungkin. Tapi aku memimpikannya. Aku bermimpi dan memiliki cita-cita untuk memiliki perusahaan penerbangan yang terbesar di negaraku. Ya! itulah tujuan bermimpi.
Membuat kita bergerak untuk mewujudkan yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Ini mimpiku yang harus terwujud. Membangun mesjid yang indah yang dapat menampung beratus-ratus umat di dalamnya. Insya Allah... 'kun fayakun'... Aku percaya, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.
MAN JADDA WAJADA!
"Bagiku bermimpi itu indah. Karena Allah yang Maha menggenggam impian kita. Dengan mengazamkan segala harapan dan impian di masa depan. Dengan kesungguhan ikhtiar didalamnya, kita hanya tinggal menunggu....Semua impian itu akan Allah dekatkan satu-persatu melalui mozaik-mozaik khidupan yang indah"
-Annisa Oktaviana-






Tidak ada komentar:
Posting Komentar